Kamis, 21 Oktober 2010

Soto Mie Sarodja

Saya termasuk penggemar soto mie. Ketimbang bakso, saya lebih memilih makanan berkuah yang satu ini. Sebab, tinggal tambahkan bakso, jadilah soto mie bakso. So, bisa menikmati dua-duanya sekaligus. Sedap khan?.

Salah satu soto mie favorit saya adalah Soto Mie racikan bapak Sarodja di jalan Danau Toba, Bendungan Hilir, Jakarta. Tempatnya juga sederhana. Hanya tenda kecil di temperan trotoar di depan sebuah SD. Tetapi, rasanya mantap. Awalnya, saya diajak seorang teman yang sudah menjadi pelanggan tetap Sarodja sejak beberapa tahun lalu. Lama-lama, ketagihan juga. Apalagi warung soto mie ini tidak terlalu jauh dengan rumah.

Berdiri sejak tahun 1970-an, warung ini tidak berubah bentuknya. Tetap sederhana. Mulanya, hanya jualan bakso. Kemudian, berkembang dengan menu soto mie dan soto daging.

"Dulu jualan bakso. Terus ditambah menunya dengan soto mie. Tinggal ditambah sayuran dan risol dan daging. Kuahnya sama aja," kata Pak Jo, peracik soto mie Sarodja. Belakangan, Sarodja lebih ngetop dengan soto mienya, meski baksonya juga enak, karena buatan sendiri.

Rasa yang ditawarkan soto mie ini memang nikmat. Campurannya juga lengkap. Mie putih, mie kuning, irisan tomat segar, daun kol segar, beberapa potong risol, irisan-irisan daging sapi yang memenuhi mangkuk dan emping di atasnya.

Warung soto mie ini memang tidak memakai kikil sebagai pelengkap, tetapi potongan-potongan besar daging sapi. Diambil dari bagian paha depan (sengkel) dan rusuk sapi, daging ini benar-benar empuk di lidah. Apalagi, kala mendapat daging yang mengandung urat.

Irisan-irisan daging ini memang menjadi ciri khas kelezatan soto mie yang saat ini sudah membuka tiga cabang di seputaran Bendungan Hilir ini. Ketika saya memikirkan soto mie ini, yang terbayang di benak saya adalah potongan-potongan daging dengan uratnya yang empuk dan menggoda. Hmm…benar-benar nikmat!

Kuahnya juga istimewa. Terasa segar dan gurih. Kucuran jeruk yang dicampurkan Pak Jo dalam kuah soto mie juga pas. Jadi, tidak perlu repot-repot lagi mencari dan menambahkan jeruk untuk menambah sedapnya rasa. Tetapi, kalau kurang ‘kecut’ bisa meminta jeruk lagi kok untuk ditambahkan.

"Rahasianya, dagingnya harus segar. Jangan disimpan di kulkas. Rusuk sapinya membuat kuahnya terasa segar dan sedap," terangnya.

Pelanggan warung yang satu ini kebanyakan memang pekerja kantoran di seputar Benhil. Jadi, pas jam makan siang, pasti susah mendapat tempat duduk. Meski sudah mempunyai dua cabang, warung pertama inilah yang paling ramai. Menurut para pelanggan, di tangan Pak Jo-lah soto mie ini menjadi sedap.

"Katanya, beda tangan, beda rasa mbak, Malah kalau saya sedang tidak jaga, ada yang nggak jadi beli. Katanya, rasanya beda di tangan orang lain," ungkap lelaki yang telah bekerja di Sarodja sejak tahun 1982 ini. Pak Sarodja sendiri, sudah tidak menjaga warung-warungnya.

Saya sendiri sudah pernah membuktikannya. Suatu kali, saya mencoba cabang Sarodja di Danau Tondano, tidak jauh dari warung di depan SD ini. Rasanya, memang lain. Perbedaannya sangat terasa di kuah yang dicampur dengan kucuran jeruk. Mungkin kucuran jeruknya tidak pas. Jadi tidak sesegar yang diracik Pak Jo.

Soal harga, untuk ukuran kaki lima, memang cukup mahal. Satu porsi soto mie, dihargai Rp 14.000. Tetapi, seperti kata orang, ada rasa ada harga. Dengan kenikmatan yang ditawarkan, worth it kok ! (Angelina Maria Donna-kompas)


Lihat juga : wine, sushi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar