Mau makan ikan bandeng tanpa harus mencabuti duri-duri lembutnya? Selain bandeng duri lunak atau presto, sate bandeng khas Banten bisa jadi pilihan.
Sate bandeng banyak dijumpai di Serang, Provinsi Banten, karena memang khas daerah ini. Konon, sate bandeng diperkenalkan oleh juru masak Kasultanan Banten pada zaman dulu. Juru masak memutar otak, mencari cara untuk menyajikan bandeng tanpa duri kepada tetamu kasultanan.
Sangat mudah mendapatkan bandeng di kawasan yang memang dekat sekali dengan laut ini. Jika Anda melancong ke Banten Lama, misalnya, tidak jauh dari situs bersejarah Kaibon, Anda akan menjumpai tempat pelelangan ikan. Di dekat sana, terhampar tambak-tambak ikan yang superluas, salah satunya milik Mukodas Syuhada.
Mukodas membangun semacam kampung kecil di tengah tambak yang ia namai Tapak Bumi. Akan ada taman bacaan (sedang dibangun) di sini. Pengunjung juga dapat menyantap bandeng bakar lumpur.
Namun, karena tempat ini belum sepenuhnya jadi, tamu harus terlebih dahulu memesan ikan sehari sebelumnya. Kami pun belum sempat mencicipi gurihnya bandeng bakar lumpur di Tapak Bumi ini. ”Kalau pesan kemarin, sekarang udah mateng,” kata Mang Udin, penjaga Tapak Bumi.
Meski harga bandeng segar di pasaran tidak bisa dipastikan alias naik-turun, harga sate bandeng di warung Sampurna tetap stabil, Rp 15.000 per tusuk.
Yus memilih untuk mengambil sendiri bandeng yang sudah ia pesan ke pasar. ”Kalau diantar, tahu-tahu dapat yang bau, malah repot,” begitu ia beralasan.
Sebenarnya, bandeng Banten masih kalah bagus (kalah gurih) dibanding bandeng dari Indramayu. Namun, Yus juga ingin bandeng Banten tetap dikonsumsi. Maka, ia pun memilih mencampur bandeng dari dua daerah itu.
Penggemar yang menyukai rasa bandeng seperti apa adanya mungkin akan kecewa setelah menyantap sate bandeng. Rasa asli bandeng hampir lenyap, tertelan gurihnya santan. (inovassi)
Lihat juga : hanamasa, ice cream
Tidak ada komentar:
Posting Komentar